Get weekly notifications for new group therapy session times.
Are you interested in joining an online group therapy session? Subscribe and receive weekly updates for new group therapy session times at Grouport.
.png)
Learn DBT Skills In A Group
Weekly sessions are available. Grouport offers therapist-led dialectical behavior therapy skills groups online. The first 12 weeks covers fundamental DBT skills.
Learn moreCaca sedang asyik bersantai di kamarnya yang estetik. Di tangannya ada segelas iced oat latte dengan sedotan kaca, di sampingnya ada laptop yang menampilkan jurnal digital yang penuh stiker lucu. "Duh, mumpung pencahayaannya lagi bagus," pikirnya.
Dia pun mengatur posisi, mengambil foto tangan yang memegang kopi dengan latar belakang kamar yang rapi. Cekrek! Hasilnya sempurna. Tanpa pikir panjang, dia mengirim foto itu ke grup WhatsApp keluarga dengan caption: "My daily dose of mindfulness. Best lifestyle and entertainment at home! ✨☕️ #Healing"
Beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar hebat. Bukan dari teman-temannya, tapi telepon dari Nenek. "Halo, Nek? Bagus kan fotonya—"
"ASTAGA, CACA!" Suara Nenek melengking dari seberang telepon. "Kamu itu ya, kerjanya cuma foto-foto kopi terus! Itu di belakang kamu, Nenek lihat di foto, tumpukan baju kotor belum dicuci sudah setinggi gunung!"
Caca tersentak. Dia melihat ke sudut kamar yang sengaja dia tutupin pakai gorden, tapi ternyata ujung tumpukan baju itu tetap tertangkap kamera di pojok kiri bawah.
"Itu namanya entertainment? Itu namanya jorok!" omel Nenek lagi. "Gaya hidup 'best' apa itu kalau sempak sama kaos kaki nyampur di lantai? Cepat cuci! Jangan cuma jago edit foto biar kelihatan kaya, tapi aslinya malas gerak!" dimarahin neneknya karna ketahuan colmek eh pap best
Caca cuma bisa nyengir kuda sambil menjauhkan ponsel dari telinga. Niat hati ingin pamer aesthetic lifestyle, malah kena siraman rohani jalur zoom-in foto.
"Iya, Nek... ini langsung Caca masukin mesin cuci," jawabnya lemas.
"Jangan bohong! Kirim foto kamu lagi pegang sikat cuci sekarang, baru Nenek percaya!"
Hari itu, Caca belajar satu hal: jangan pernah pamer lifestyle ke grup keluarga kalau belum benar-benar bebenah. Karena mata Nenek lebih tajam daripada resolusi kamera 108 MP sekalipun.
Gimana, mau dibikinin versi yang lebih drama atau ada detail kocak lain yang mau ditambahin? Caca sedang asyik bersantai di kamarnya yang estetik
Oleh: Tim Best Lifestyle & Entertainment
Pernahkah Anda berada dalam situasi paling kacau sekaligus paling absurd dalam hidup? Saat hati kecil menjerit ketakutan, tetapi sisi lain dari diri Anda justru berpikir, "Wah, ini konten bagus, sayang kalau tidak diabadikan."
Fenomena itulah yang akhir-akhir ini viral dan menjadi bahan perbincangan hangat di linimasa media sosial khususnya TikTok, Twitter (X), dan Instagram Reels. Kita berbicara tentang momen yang bisa diringkas dalam satu frasa kunci yang unik sekaligus menggelitik: "dimarahin neneknya karna ketahuan eh pap best lifestyle and entertainment".
Ya, rangkaian kata itu mungkin terdengar seperti kalimat tidak jelas dari bocil TikTok yang kehabisan kuota. Tapi percayalah, di balik keganjilan gramatikalnya, tersimpan sebuah realitas sosial generasi milenial dan Z yang sangat menarik untuk dibedah. Ini bukan sekadar cerita tentang anak dimarahi nenek. Ini adalah lifestyle dan bentuk entertainment modern.
Tokoh:
Setting: Ruang tamu / Dapur.
Di sinilah kejeniusan generasi internet bekerja.
Alih-alih merasa malu atau bersalah, kamu sadar: momen ini terlalu bagus untuk disia-siakan.
Kamera tetap menyala. Ekspresi nenek yang setengah kesal, setengah gemas, justru menjadi highlight. Kamu pun mengedit videonya, menambahkan teks besar:
"Dimarahin nenek karena ketahuan beli sneakers mahal. Tapi ternyata ini konten pap best lifestyle and entertainment."
Dan dalam hitungan jam, video itu viral di TikTok, Reels, dan Shorts. Komentar membanjiri: Kamu: Si "Pelaku" yang polos tapi jahil
Tiba-tiba, omelan nenek bukan lagi aib. Ia menjadi konten premium yang menghibur ribuan orang.
III. Travel and Exploration
